MAKALAH
KULIAH
KERJA LAPANGAN
MATEMATIKA
ANGKATAN
2008 A TAHUN 2011
PENYUSUN:
NAMA
: HERU WIBOWO
NIM
: 088 420 200 446
UNIVERSITAS
PGRI BANYUWANGI
MATEMATIKA
2008 A
MAKALAH
KULIAH
KERJA LAPANGAN
Diajukan
guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan
Pendidikan
Program Sarjana Jurusan Pendidikan Matematika
Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam pada
UNIVERSITAS
PGRI BANYUWANGI
O
L E H :
NAMA : HERU
WIBOWO
NIM : 088 420 200 446
FAKULTAS : F - MIPA
JURUSAN : MATEMATIKA
ANGKATAN : 2008 A
Disetujui
Oleh :
Pembimbing I Pembimbing
II,
Drs.H.Moh. Arifin Drs.Ganet Supendi, MSi
Megetahui
Ka.
Prodi Matematika
Miftahul Rachmi, S.Si
KATA
PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, segala limpahan rahmat serta Karunia-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah KKL MATEMATIKA 2008 ini sesuai
dengan harapan.
Tiada
kata-kata yang lebih indah selain ucapan
terima kasih kepada yang terhormat :
1.
Bapak Drs. H. Teguh Sumarno, MM selaku
Rektor Universitas PGRI Banyuwangi.
2.
Bapak Drs. Hudori, M.Pd selaku Dekan
F-MIPA Universitas PGRI Banyuwangi
3.
Ibu Miftahul Rachmi, S.Si selaku Ka.
Prodi Matematika Universitas PGRI Banyuwangi
4.
Drs.
H. Moh. Arifin selaku Dosen pembimbing I
5.
Drs. Ganet Supendi, Msi selaku Dosen pembimbing II
6.
Semua teman – teman yang telah
memberikan bantuan kepada Penulis sampai terselesaikannya laporan makalah KKL ini.
Mudah-mudahan
semua bantuan yang diberikan kepada Penulis mendapatkan imbalan dari Allah SWT.
Akhirnya
dengan menyadari keterbatasan kemampuan Penulis, mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi perbaikan laporan makalah KKL ini lebih lanjut. Semoga laporan makalah KKL ini membawa
manfaat. Amien.
Banyuwangi,
05 Maret 2011
Penulis
DAFTAR ISI
1.
Halaman Judul
...........................................................................
2.
Halaman Persetujuan..................................................................
3.
Kata Pengantar...........................................................................
4.
Daftar Isi.....................................................................................
5.
BAB I Pendahuluan
I.
Latar Belakang Kegiatan KKL......................................... 1
II.
Tujuan dan Manfaat KKL................................................. 1
III.
Waktu Pelaksanaan KKL.................................................. 2
6.
BAB II Laporan KKL
I. Objek-objek
Kegiatan KKL............................................. 3
II. Temuan-temuan
Tentang Objek KKL.............................. 7
III.
Bukti Fisik Hasil Temuan.................................................. 8
7.
BAB III
I. Kesimpulan...................................................................... 10
II. Saran................................................................................. 10
III.
Penutup............................................................................. 10
8.
Daftar Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang Kegiatan KKL
Kuliah
kerja lapangan (KKL) Universitas PGRI Banyuwangi merupakan agenda rutinan yang dilaksanakan
setiap satu tahun sekali yang di ikuti oleh seluruh mahasiswa jurusan
metematika akhir semester v dan
mahasiswa transfer yang belum mengikuti kegitan KKL.
KKL
di Universitas PGRI Banyuwangi bertujuan
untuk mengembangkan materi dan kamampuan serta menambah wawasan dan pengetahuan
yang didapatkan sebagai pelengkap materi kegiatan perkuliahan.Dalam kegiatan
KKL ini, Kami berkesempatan mengunjungi dan mengikuti pelatihan di PPPPTK (pusat
pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan),mengunjungi
istana presiden yang ada di yogyakarta,candi borobudur dan kraton yogyakarta sebagai
objek KKL.
Setelah
kegiatan KKL dilaksanakan perlu adanya
laporan KKL yang merupakan tugas mahasiswa yang harus dilengkapi dan merupakan
salah satu syarat kelulusan, karena KKL salah satu program pelaksanaan program
kerja lapangan yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa fakultas matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam khusnya buat jurusan matematika.
I.2 Tujuan Dan Manfaat KKL
A.
TUJUAN
Kuliah
kerja lapangan (KKL) ini bertujuan untuk mengembangkan materi dan kemampuan
serta menambah wawasan dan pengetahuan bagi para mahasiswa yang setelah lulus
akan menghadapi kedunia kerja yaitu jadi seorang guru,berkenaan dengan konsep
dan tori yang didapatkan dari kegiatan KKL ini kita dapat mengetahui gambaran tentang kegitan
pembelajaran dilapangan. Adapun tujuan KKL,lainya adalah
1.
Mengembangkan wawasan dan pengetahuan
secara langsung tentang dunia pendidikan
2.
Mahasiswa dapat mengetahui tentang objek-objek yang ada di yogyakarta
sebagai bahan untuk mencari teori pembelajaran
3.
Mahasiswa dapat mengetahui cara
pembelajran dengan rekreassi
B. MANFAAT
Kegitan
KKL Jurusan matematika Fakultas MIPA Universitas PGRI Banyuwangi angkatan 2008
dan transfer ini mempunyai manfaat, antara lain :
1.
Menambah wawasan mengenai pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik
dan tenaga kependidikan matematika di yogyakarta
2.
Mengetahui cara dan metode pembelajaran
yang sesuai dengan standar kurikulum yang ada dengan mengunakan media
objek-objek wisata yang ada
3.
Mengetahui cara pembelajaran dengan
metode rekreasi yaitu dengan mengunakan objek-objek wisata
I.3 Waktu
Pelaksanaan KKL
Pelaksanaan KKL dilaksanakan pada:
Hari : Minggu – Rabu
Tanggal : 27 Februari – 2 Maret 2011
Waktu : : 07.00 – 16.00 Wib
Tempat : di Yogyakarta
BAB II
LAPORAN KKL
I.
Objek-Objek
KKL
1.1
Istana
Presiden
Istana Kepresidenan Yogyakarta
terletak di ujung selatan Jalan Akhmad Yani (yang dahulu jalan Malioboro);
Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kotamadya Yogyakarta. Kompleks ini
dibangun di atas lahan seluas 43.585 meter persegi, sejak didirikannya Istana
Yogyakarta tidak banyak berubah. Di halaman serambi depan tampak sebuah patung
raksasa penjaga pintu (dwarapala) setinggi dua meter. Selain itu, terdapat
sebuah tugu Dagoba (yang oleh orang Yogyakarta disebut Tugu Lilin) setinggi
tiga setengah meter, yang senantiasa menyalakan api semu di puncaknya. Tugu ini
terbuat dari batu andesit. Halaman belakang istana ditumbuhi oleh pepohonan
besar dan tinggi yang dedaunannnya amat lebat dan rindang sehingga tampak
seakan merindangi bangunan istana. Istana Kepresidenan Yogyakarta dikenal juga
dengan nama Gedung Agung atau Gedung Negara, salah satu fungsi gedung utama
istana, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung.
Istana
Kepresidenan Dari Depan Riwayat Istana Kepresidenan Yogyakarta bermula dari
rumah kediaman resmi Residen Ke-18 di Yogyakarta (1823 – 1825). Ia seorang
Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan
pemrakarsa pembangunan Gedung Agung ini. Gedung ini didirikan pada bulan Mei
1824 oleh A. Payen yaitu arsitek yang ditunjuk oleh gubernur jenderal Hindia
Belanda. Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena pecahnya Perang
Diponegoro (1825 – 1830) dan dilanjutkan setelah perang itu usai (1832).
Beberapa gubernur Belanda yang mendiami gedung tersebut adalah J.E. Jesper
(1926 – 1927); P.R.W. van Gesseler Verschuur (1929 – 1932); H.M. de Kock (1932
– 1935); J. Bijlevel (1935 – 1940); serta L. Adam (1940 – 1942). Pada masa
pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di
Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.
Gedung Induk R. Garuda Pada
tanggal 6 Januari 1946 Yogyakarta resmi menjadi ibu kota baru Republik
Indonesia setelah pemerintah Republik Indonesia berhijrah dari Jakarta ke
Yogyakarta. Sejak saat itu Gedung Agung berubah menjadi Istana Kepresidenan,
rumah kediaman Presiden Soekarno, Presiden I RI beserta keluarganya.
Pada tanggal 28 Desember 1949,
Presiden berpindah ke Jakarta, sehingga istana ini tidak lagi menjadi tempat
kediaman Presiden. Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada masa dinas
Presiden II RI, sejak tanggal 17 April 1988, Istana Kepresidenan
Yogyakarta/Gedung Agung juga digunakan untuk penyelenggaraan Upacara Parade Senja
pada setiap tanggal 17, di samping untuk Acara Perkenalan Taruna-taruna Akabri
Udara yang Baru, dan sekaligus Acara Perpisahan Para Perwira Muda yang Baru
lulus dengan Gubernur dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan sejak
17 Agustus 1991, secara resmi Istana Kepresidenan Yogyakarta digunakan sebagai
tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk DI Yogyakarta.
1.2
Kraton
yogyakarta
Kraton adalah tempat tinggal
raja/ratu, Atau dalam arti luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh
struktur dan bangunan kraton mengandung arti yang sangat berkaitan dengan
pandangan hidup jawa yang essensial, yakni sangkan paraning dumadi(dari mana
asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati) atau dalam pikiran
masyarakat jawa diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat
jagat .
Garis
besarnya,wilayah kraton yogyakarta memanjang 5 kilometer ke arah selatan hinga
keprayakan dan 2 km ke arah utara dan berakhir di tugu.Kraton yogyakarta
berdiri dengan berbagai macam perjuangan dengan bersepakat membuat perjanjian
Giyanti yang mana pada waktu itu perjajian dilakukan oleh pangeran Mangkubumi yang
diberi wilayah diyogyakarta,dalam menjalankan roda pemerintahan pangeran
mangkubumi membangun istana atau sekarang disebut kraton pada tahun 1755 di
wilayah hutan beringan,dengan strateginya lokasi istana/kraton maka
pemerintahan berjalan dengan pesat dan di angkatlah raja pertama di kesultanan
yogyakarta yaitu pangeran mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Di dalam
kraton dibagi berbagai tata ruang diantaranya adalah tugu atau bangsal kencana
yang merupakan tempat singasana raja,bangsal prabayeksa sebagai tempat
menyimpan senjata-senjata pusaka kraton selain itu didalam area kraton mulai
dari selatan sampai utara terdapat alun-alun utara,siti hinggil
utara,kemandungan utara,srimaganti,kedhaton,kemangangan,kemandhungan
selatan,siti hinggil selatan dan alun-alun selatan.adapaun pintu yang harus
dilalui untuk masing-masing tempat berjumlah 9 ,disebut regol
.
1.3
Borobudur
Candi
Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Borobudur
dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno,
keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang
Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah
tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa
awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah
gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain
mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bangunan
Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter
sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah
digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar
dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang
berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan
tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang
ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan
tersebut.
Bagian dasar
Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat
nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang
telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk.
Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat
di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut
Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa,
dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana,
tempat Budha bersemayam.
Setiap
tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir
pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah
jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur
bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain
itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu.
Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan
sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari
kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Keseluruhan
relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya,
candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari
ajaran Budha. YogYES mengajak anda untuk mengelilingi setiap lorong-lorong
sempit di Borobudur agar dapat mengerti filosofi agama Budha. Atisha, seorang
budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3
abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa
ini.
Berkat
mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah
satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia
menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara
mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah
inti ajaran disebut "The Lamp for the Path to Enlightenment"
atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.
II.
Temuan-temuan
Tentang Objek KKL
Temuan-temuan
yang ada di istana kepresidenan yogyakarta adalah ruang tempat penerima tamu
yang mana disitu tempat menerima tamu penting kepresidenan dari berbagai daerah
maupun negara, selain itu juga ada kamar-kamar khusus yang mana kamar itu
dibuat untuk tidur para keluarga presiden dan juga ada kamar rapat khusus yang
mana untuk membicarakan hal-hal penting kenegaraan yang harus dibicarakan oleh
2 orang saja,ada juga kamar untuk para tamu undangan presiden yang samapai
menginap di kepresidenan.
Dibelakang
tempat penerima tamu terdapat sebuah ruangan yang mana biasanya di buat diskusi
oleh para presiden beserta tamu keprisidenan . Selain di buat diskusi biasanya
setelah acara selesai biasanya ada jamuan yaitu makan bersama.Adapun ruang –
ruang lainya adalah ruang pentas seni yaitu sebuah ruangan yang mana disitu
gunakan untuk menunjukkan hiburan kepada tamu undangan agar tamu undangan
merasa senang dan juga mengetahui seni-seni budaya yang ada di daerah ataupun
seni budaya bangsa indonesia
Kraton
yogyakarta adalah sebuah tempat para raja yogyakarta disana kita akan mersakan
betapa khasnya atau masih murninya adat yogyakarta yang mana orang-orangnya
yang kalem,santun dan bahasa jawanya yang masih asli.Kraton jogyakarta hampir
setiap hari kita disajikan yang namanya gamelan jawa atau seni wewayangan
III.
Bukti
Fisik Hasil Temuan
BAB III
PENUTUP
I.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Yogyakarta, maka kami simpulkan
bahwa dalam pembelajaran tindah harus diruang kelas atau Cuma dalam lingkungan
sekolah melainkan perlu adanya pembelajaran di tempat – tempat wisata sehingga
kita tidak jenuh.Jadi kegiatan KKL ini bener-benar cocok dan sangat membantu
dan memberikan inisitif dalam kegiatan pembelajaran kita besok.Selain kita mengenalkan
objek-objek wisata kita juga memberikan materi samabil berekreasi.
II.
Saran
Kepada
lembaga Universitas PGRI Banyuwangi, hendaknya lembaga dapat memfasilitasi
kegiatan kuliah kerja lapangan di Universitas PGRI Banyuwangi dengan baik dan
memberikan waktu yang lebih panjang, dan semoga untuk kegiatan KKL yang
berikutnya Guidenya lebih ditambah
supaya penjelasanya yang kami terima menjadi lebih jelas.
III.
Penutup
Pemilihan Makalah ini merupakan bentuk pemikiran dari kegiatan
Kuliah Kerja Lapangan , dengan mengharapkan pencapaian tujuan belajar yang
maksimal guna memperoieh basil yang maksimal pula, Dan semoga Makalah ini bermanfaat
bagi seluruh Mahasiswa Universitas PGRI Banyuwangiserta Mahasiwa matematika
pada khususnya,
Penyusunan Makalah ini masih
jauh dari kata sempurna, maka dari itu diharapkan peran serta pembaca dalam
memberikan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan penulisan Makalah
ini.
Semoga apa
yang ada dalam penulisan ini bermafaat bagi Mahasiwa khususnya Mahasiswa
matematika .
DAFTAR PUSTAKA
1.
Winarno Surachman, 1994, Pengantar
Interaksi Belajat Mengajar, Tarsito,
5.
www.yogyes.com/en/yogyakarta-tourism-object/historic-and-heritage-sight/ kraton