selamat datang

24.1.12

PUISI 2


RINDU
H&RSebuah kerinduan yang tak bisa aku tahan
banyak hal yang memberikan masukan dan dorongan
banyak hal karena kamu aku bisa berubah
tapi kenapa aku tak bisa menahan kekangenan di hatiku

aku mulai merasakan sebuah cinta dan kasih sayang
apakah ini bisa jadi sebuah kenyataan
fotomu yang ada dalam hpku sebagai obat kangenku
yang selalu menemaniku baik siang dan malam
baik tidur sampai bangun lagi

Ku melihat fb mu jika aku masih tetep rindu
hanya like yang bisa ku komentari fb mu
jujur paling dalam q sangat cinta dan sayang kepadamu
jagan tingalin aku wahai sayangku



H&R

13.1.12

laporan kkl


MAKALAH
KULIAH KERJA LAPANGAN
MATEMATIKA
ANGKATAN 2008 A TAHUN 2011


 



















PENYUSUN:
                                          NAMA   : HERU WIBOWO
                                          NIM       : 088 420 200 446

UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI
MATEMATIKA 2008 A

MAKALAH
KULIAH KERJA LAPANGAN


Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan
Pendidikan Program Sarjana Jurusan Pendidikan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam pada
UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI


O L E H :

NAMA                  :  HERU WIBOWO
NIM                      :  088 420 200 446
FAKULTAS         :  F - MIPA
JURUSAN            :  MATEMATIKA
ANGKATAN       :  2008 A

Disetujui Oleh :
                         Pembimbing I                                                     Pembimbing II,



                    Drs.H.Moh. Arifin                                      Drs.Ganet Supendi, MSi

Megetahui
Ka. Prodi Matematika



Miftahul Rachmi, S.Si

KATA PENGANTAR


Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, segala limpahan rahmat serta Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah KKL MATEMATIKA 2008 ini sesuai dengan harapan.
Tiada kata-kata yang lebih indah selain ucapan  terima kasih kepada yang terhormat :
1.        Bapak Drs. H. Teguh Sumarno, MM selaku Rektor Universitas PGRI Banyuwangi.
2.        Bapak Drs. Hudori, M.Pd selaku Dekan F-MIPA Universitas PGRI Banyuwangi
3.        Ibu Miftahul Rachmi, S.Si selaku Ka. Prodi Matematika Universitas PGRI Banyuwangi
4.      Drs.  H.  Moh.  Arifin selaku Dosen pembimbing I
5.        Drs.  Ganet   Supendi,  Msi selaku Dosen pembimbing II
6.      Semua teman – teman yang telah memberikan bantuan kepada Penulis sampai terselesaikannya laporan makalah KKL  ini.

Mudah-mudahan semua bantuan yang diberikan kepada Penulis mendapatkan imbalan dari Allah SWT.
Akhirnya dengan menyadari keterbatasan kemampuan Penulis, mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan laporan  makalah KKL ini lebih lanjut.  Semoga laporan makalah KKL ini membawa manfaat. Amien.

Banyuwangi, 05 Maret  2011
Penulis

DAFTAR ISI

1.      Halaman Judul ...........................................................................
2.      Halaman Persetujuan..................................................................
3.      Kata Pengantar...........................................................................
4.      Daftar Isi.....................................................................................
5.      BAB I Pendahuluan
I.              Latar Belakang Kegiatan KKL......................................... 1
II.           Tujuan dan Manfaat KKL................................................. 1
III.        Waktu Pelaksanaan KKL.................................................. 2
6.      BAB II Laporan KKL
I.     Objek-objek Kegiatan KKL.............................................      3
II.  Temuan-temuan Tentang Objek KKL..............................      7
III.        Bukti Fisik Hasil Temuan.................................................. 8
7.      BAB III
I.          Kesimpulan......................................................................  10
II.  Saran.................................................................................      10
III.        Penutup.............................................................................  10
8.      Daftar Pustaka





BAB I
PENDAHULUAN

I.I        Latar Belakang Kegiatan KKL

Kuliah kerja lapangan (KKL) Universitas PGRI Banyuwangi  merupakan agenda rutinan yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali yang di ikuti oleh seluruh mahasiswa jurusan metematika akhir semester  v dan mahasiswa transfer yang belum mengikuti kegitan KKL.
KKL di Universitas PGRI Banyuwangi  bertujuan untuk mengembangkan materi dan kamampuan serta menambah wawasan dan pengetahuan yang didapatkan sebagai pelengkap materi kegiatan perkuliahan.Dalam kegiatan KKL ini, Kami berkesempatan mengunjungi dan mengikuti pelatihan di PPPPTK (pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan),mengunjungi istana presiden yang ada di yogyakarta,candi borobudur dan kraton yogyakarta sebagai objek KKL.
Setelah kegiatan KKL  dilaksanakan perlu adanya laporan KKL yang merupakan tugas mahasiswa yang harus dilengkapi dan merupakan salah satu syarat kelulusan, karena KKL salah satu program pelaksanaan program kerja lapangan yang harus diikuti oleh seluruh mahasiswa fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam khusnya buat jurusan matematika.

I.2        Tujuan Dan Manfaat KKL

A. TUJUAN
Kuliah kerja lapangan (KKL) ini bertujuan untuk mengembangkan materi dan kemampuan serta menambah wawasan dan pengetahuan bagi para mahasiswa yang setelah lulus akan menghadapi kedunia kerja yaitu jadi seorang guru,berkenaan dengan konsep dan tori yang didapatkan dari kegiatan KKL ini kita dapat  mengetahui gambaran tentang kegitan pembelajaran dilapangan. Adapun tujuan KKL,lainya adalah
1.         Mengembangkan wawasan dan pengetahuan secara langsung tentang dunia pendidikan
2.         Mahasiswa dapat mengetahui  tentang objek-objek yang ada di yogyakarta sebagai bahan untuk mencari teori pembelajaran
3.         Mahasiswa dapat mengetahui cara pembelajran dengan rekreassi

B.       MANFAAT
Kegitan KKL Jurusan matematika Fakultas MIPA Universitas PGRI Banyuwangi angkatan 2008 dan transfer ini mempunyai manfaat, antara lain :
1.         Menambah wawasan mengenai  pusat pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan matematika di yogyakarta
2.         Mengetahui cara dan metode pembelajaran yang sesuai dengan standar kurikulum yang ada dengan mengunakan media objek-objek wisata yang ada
3.         Mengetahui cara pembelajaran dengan metode rekreasi yaitu dengan mengunakan objek-objek wisata
I.3       Waktu Pelaksanaan KKL
Pelaksanaan KKL dilaksanakan pada:
Hari                 : Minggu – Rabu
Tanggal            : 27 Februari – 2 Maret 2011
Waktu :            : 07.00 – 16.00 Wib
Tempat            : di Yogyakarta






BAB II
LAPORAN KKL

I.                               Objek-Objek KKL

1.1         Istana Presiden
Istana Kepresidenan Yogyakarta terletak di ujung selatan Jalan Akhmad Yani (yang dahulu jalan Malioboro); Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kotamadya Yogyakarta. Kompleks ini dibangun di atas lahan seluas 43.585 meter persegi, sejak didirikannya Istana Yogyakarta tidak banyak berubah. Di halaman serambi depan tampak sebuah patung raksasa penjaga pintu (dwarapala) setinggi dua meter. Selain itu, terdapat sebuah tugu Dagoba (yang oleh orang Yogyakarta disebut Tugu Lilin) setinggi tiga setengah meter, yang senantiasa menyalakan api semu di puncaknya. Tugu ini terbuat dari batu andesit. Halaman belakang istana ditumbuhi oleh pepohonan besar dan tinggi yang dedaunannnya amat lebat dan rindang sehingga tampak seakan merindangi bangunan istana. Istana Kepresidenan Yogyakarta dikenal juga dengan nama Gedung Agung atau Gedung Negara, salah satu fungsi gedung utama istana, yaitu sebagai tempat penerimaan tamu-tamu agung.
         Istana Kepresidenan Dari Depan Riwayat Istana Kepresidenan Yogyakarta bermula dari rumah kediaman resmi Residen Ke-18 di Yogyakarta (1823 – 1825). Ia seorang Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan pemrakarsa pembangunan Gedung Agung ini. Gedung ini didirikan pada bulan Mei 1824 oleh A. Payen yaitu arsitek yang ditunjuk oleh gubernur jenderal Hindia Belanda. Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena pecahnya Perang Diponegoro (1825 – 1830) dan dilanjutkan setelah perang itu usai (1832). Beberapa gubernur Belanda yang mendiami gedung tersebut adalah J.E. Jesper (1926 – 1927); P.R.W. van Gesseler Verschuur (1929 – 1932); H.M. de Kock (1932 – 1935); J. Bijlevel (1935 – 1940); serta L. Adam (1940 – 1942). Pada masa pendudukan Jepang, istana ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan.
          Gedung Induk R. Garuda Pada tanggal 6 Januari 1946 Yogyakarta resmi menjadi ibu kota baru Republik Indonesia setelah pemerintah Republik Indonesia berhijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Sejak saat itu Gedung Agung berubah menjadi Istana Kepresidenan, rumah kediaman Presiden Soekarno, Presiden I RI beserta keluarganya.
          Pada tanggal 28 Desember 1949, Presiden berpindah ke Jakarta, sehingga istana ini tidak lagi menjadi tempat kediaman Presiden. Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada masa dinas Presiden II RI, sejak tanggal 17 April 1988, Istana Kepresidenan Yogyakarta/Gedung Agung juga digunakan untuk penyelenggaraan Upacara Parade Senja pada setiap tanggal 17, di samping untuk Acara Perkenalan Taruna-taruna Akabri Udara yang Baru, dan sekaligus Acara Perpisahan Para Perwira Muda yang Baru lulus dengan Gubernur dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan sejak 17 Agustus 1991, secara resmi Istana Kepresidenan Yogyakarta digunakan sebagai tempat memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan untuk DI Yogyakarta.

1.2         Kraton yogyakarta
             Kraton adalah tempat tinggal raja/ratu, Atau dalam arti luas, diuraikan secara sederhana, bahwa seluruh struktur dan bangunan kraton mengandung arti yang sangat berkaitan dengan pandangan hidup jawa yang essensial, yakni sangkan paraning dumadi(dari mana asalnya manusia dan kemana akhirnya manusia setelah mati) atau dalam pikiran masyarakat jawa diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat jagat .
Garis besarnya,wilayah kraton yogyakarta memanjang 5 kilometer ke arah selatan hinga keprayakan dan 2 km ke arah utara dan berakhir di tugu.Kraton yogyakarta berdiri dengan berbagai macam perjuangan dengan bersepakat membuat perjanjian Giyanti yang mana pada waktu itu perjajian dilakukan oleh pangeran Mangkubumi yang diberi wilayah diyogyakarta,dalam menjalankan roda pemerintahan pangeran mangkubumi membangun istana atau sekarang disebut kraton pada tahun 1755 di wilayah hutan beringan,dengan strateginya lokasi istana/kraton maka pemerintahan berjalan dengan pesat dan di angkatlah raja pertama di kesultanan yogyakarta yaitu pangeran mangkubumi dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Di dalam kraton dibagi berbagai tata ruang diantaranya adalah tugu atau bangsal kencana yang merupakan tempat singasana raja,bangsal prabayeksa sebagai tempat menyimpan senjata-senjata pusaka kraton selain itu didalam area kraton mulai dari selatan sampai utara terdapat alun-alun utara,siti hinggil utara,kemandungan utara,srimaganti,kedhaton,kemangangan,kemandhungan selatan,siti hinggil selatan dan alun-alun selatan.adapaun pintu yang harus dilalui untuk masing-masing tempat berjumlah 9 ,disebut regol

.
1.3         Borobudur
Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.
Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha. YogYES mengajak anda untuk mengelilingi setiap lorong-lorong sempit di Borobudur agar dapat mengerti filosofi agama Budha. Atisha, seorang budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.
Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut "The Lamp for the Path to Enlightenment" atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.
II.                  Temuan-temuan Tentang Objek KKL
           Temuan-temuan yang ada di istana kepresidenan yogyakarta adalah ruang tempat penerima tamu yang mana disitu tempat menerima tamu penting kepresidenan dari berbagai daerah maupun negara, selain itu juga ada kamar-kamar khusus yang mana kamar itu dibuat untuk tidur para keluarga presiden dan juga ada kamar rapat khusus yang mana untuk membicarakan hal-hal penting kenegaraan yang harus dibicarakan oleh 2 orang saja,ada juga kamar untuk para tamu undangan presiden yang samapai menginap di kepresidenan.
           Dibelakang tempat penerima tamu terdapat sebuah ruangan yang mana biasanya di buat diskusi oleh para presiden beserta tamu keprisidenan . Selain di buat diskusi biasanya setelah acara selesai biasanya ada jamuan yaitu makan bersama.Adapun ruang – ruang lainya adalah ruang pentas seni yaitu sebuah ruangan yang mana disitu gunakan untuk menunjukkan hiburan kepada tamu undangan agar tamu undangan merasa senang dan juga mengetahui seni-seni budaya yang ada di daerah ataupun seni budaya bangsa indonesia
           Kraton yogyakarta adalah sebuah tempat para raja yogyakarta disana kita akan mersakan betapa khasnya atau masih murninya adat yogyakarta yang mana orang-orangnya yang kalem,santun dan bahasa jawanya yang masih asli.Kraton jogyakarta hampir setiap hari kita disajikan yang namanya gamelan jawa atau seni wewayangan



III.               Bukti Fisik Hasil Temuan



















FOTO DI KRATON YOGYAKARTA
 







 















































Text Box: FOTO ATAS BERSAMA DENGAN DOSEN PEMBIMBING I DALAM DISKUSI
FOTO TENGAH DISKUSI BERSAMA DENGAN WISATAWAN  MANCANEGARA
FOTO BAWAH TANYA JAWAB DENGAN PENGUNJUNG PELAJAR SMA
 














BAB III
PENUTUP
I.                                                Kesimpulan
Berdasarkan hasil kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Yogyakarta, maka kami simpulkan bahwa dalam pembelajaran tindah harus diruang kelas atau Cuma dalam lingkungan sekolah melainkan perlu adanya pembelajaran di tempat – tempat wisata sehingga kita tidak jenuh.Jadi kegiatan KKL ini bener-benar cocok dan sangat membantu dan memberikan inisitif dalam kegiatan pembelajaran kita besok.Selain kita mengenalkan objek-objek wisata kita juga memberikan materi samabil berekreasi.

II.                Saran
Kepada lembaga Universitas PGRI Banyuwangi, hendaknya lembaga dapat memfasilitasi kegiatan kuliah kerja lapangan di Universitas PGRI Banyuwangi dengan baik dan memberikan waktu yang lebih panjang, dan semoga untuk kegiatan KKL yang berikutnya  Guidenya lebih ditambah supaya penjelasanya yang kami terima menjadi lebih jelas.


III.             Penutup
Pemilihan Makalah ini merupakan bentuk pemikiran dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan , dengan mengharapkan pencapaian tujuan belajar yang maksimal guna memperoieh basil yang maksimal pula, Dan semoga Makalah ini bermanfaat bagi seluruh Mahasiswa Universitas PGRI Banyuwangiserta Mahasiwa matematika pada khususnya,
Penyusunan Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu diharapkan peran serta pembaca dalam memberikan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan penulisan Makalah ini.
Semoga apa yang ada dalam penulisan ini bermafaat bagi Mahasiwa khususnya Mahasiswa matematika .

DAFTAR PUSTAKA

1.                                                      Winarno Surachman, 1994, Pengantar Interaksi Belajat Mengajar, Tarsito,
2.                                                      www.presidenri.go.id/istana
3.                                                      www.borobudur.tv
5.                  www.yogyes.com/en/yogyakarta-tourism-object/historic-and-heritage-sight/ kraton